Di India, Kotoran Sapi Jadi Kunci Industri Energi

Di India, Kotoran Sapi Jadi Kunci Industri Energi

Smallest Font
Largest Font

Menurut data dari badan kebijakan pemerintah India NITI Aayog, ternak sapi di India menghasilkan sekitar tiga juta ton kotoran setiap harinya. Dalam rangka menggenjot produksi energi dari sumber alternatif dan alami, pemerintah India pun membuat kebijakan khusus supaya bisa mendapatkan lebih banyak kotoran sapi dan limbah dari kawasan pertanian, untuk kemudian diubah menjadi metana.

Melansir dari BBC Indonesia, instalasi biogas mengubah kotoran sapi dan limbah pertanian menjadi metana melalui proses yang dikenal sebagai pencernaan anaerobik, yakni memasukkan limbah ke dalam tangki kedap udara di mana bakteri alami memecah bahan organik. Proses ini menghasilkan berbagai gas, terutama metana (sekitar 60%) dan karbon dioksida.

Data yang ada sekarang ini, jumlah impor yang dilakukan India untuk memenuhi kebutuhan gas alam diketahui mencapai 50%. Pemerintah ingin uang yang dikeluarkan untuk impor gas ini dialihkan ke anggaran belanja di dalam negeri. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, permintaan energi India diperkirakan akan terus meningkat.

Untuk mendorong industri biogas, pemerintah menginstruksikan pemasok gas untuk mencampur gas alam dengan 1% biometana mulai tahun 2025, dengan harapan angka ini naik menjadi 5% pada tahun 2028. Selain mengurangi impor gas, biogas juga dapat mengurangi polusi udara karena jerami yang sebelumnya dibakar dapat dikirim ke bioreaktor. Tidak hanya itu, bahan sisa setelah proses di bioreaktor dapat digunakan sebagai pupuk.

India sedang membangun bioreaktor-bioreaktor besar dengan dukungan dari pemerintah negara bagian dan federal. Gas yang dihasilkan oleh fasilitas komersial tersebut dikompresi agar lebih mudah diangkut atau digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Instalasi Compressed Biogas (CBG) terbesar di Asia saat ini berada di Lehragaga, negara bagian Punjab, India utara. Instalasi ini dibuka pada akhir tahun 2022 dan dapat mengubah 300 ton jerami padi menjadi 33 ton biogas setiap hari.

Saat ini, instalasi hanya memproduksi delapan ton per hari karena permintaan bahan bakar biogas belum cukup. 

Adapun faktor yang membuat permintaan akan biogas masih belum maksimal, utamanya adalah karena lokasi instalasi yang berada jauh dari kota besar dan jalan utama.

Di Ludhiana, Punjab, kotoran sapi justru menjadi masalah. Kota ini adalah pusat produksi susu dengan sekitar 6.000 sapi yang memenuhi daerah sekitarnya. Namun, pemilik peternakan susu membuang limbah langsung ke saluran pembuangan umum, menyebabkan polusi sungai.

Jika kotoran sapi tidak dialihkan ke reaktor biogas besar di Kompleks Susu Haibowal, situasinya mungkin akan lebih buruk. Reaktor yang dibangun pada tahun 2004 ini dapat memproses 225 ton kotoran sapi per hari. Namun, tingginya permintaan mendorong rencana untuk meningkatkan output fasilitas biogas lebih dari dua kali lipat.

Baljit Singh adalah salah satu individu yang memanfaatkan peluang di sektor biogas. Singh berasal dari keluarga petani di Punjab yang menanam gandum dan padi. Ketika melihat pabrik biogas sedang dibangun, ia melihat adanya peluang bisnis. 

Awalnya, Singh mengumpulkan jerami sisa panen keluarganya dan menjualnya ke pabrik tersebut.

Dia lantas mengajak beberapa petani lain di sekitar tempat tinggalnya untuk memberikan sekam padi sisa panen kepadanya.

"Perjalanan ini tidak mudah. Para petani sering terburu-buru membersihkan lahan untuk penanaman berikutnya, jadi mereka lebih memilih membakar sekam. Mereka saya coba yakinkan jika ini merupakan peluang yang besar sebagai tambahan pendapatan,” tutur Singh kepada BBC Indonesia.

Kini, bisnis Singh telah berkembang pesat. Dia mempekerjakan sekitar 200 orang yang mengumpulkan limbah pertanian dari 10 desa.

“Pekerjaan ini tergolong padat karya. Sebelum masa panen berlangsung, saya pun mendatangi desa-desa dan meyakinkan petani yang ada supaya mau untuk menjual sisa hasil panen mereka. Tetapi kondisinya harus benar-benar kering dan kami pun harus kerja dengan cepat. Sisa pertanian dicacah atau diparut menjadi ukuran tertentu untuk penguraian yang efisien di pabrik biogas. Selama proses pengumpulan tersebut, kehatian-hatian akan kadar air dan kontaminasi menjadi tantangan utama," lanjutnya.

Walaupun sudah ada banyak cerita sukses mengenai pengelolaan dan produksi biogas dengan metode alami, masih ada banyak pihak yang meragukan jika biogas ke depannya mampu menjadi bahan bakar utama.

Perwakilan SKG Sangha Kiran Kumar Kudaravalli menyebut jika biogas tidak cocok jika diaplikasikan untuk daerah perkotaan. Organisasi nirlaba yang berfokus dalam sektor energi terbarukan itu juga mengatakan jika daerah di pedesaan yang mayoritas penduduknya masih di bawah garis kemiskinan, bakal terkendala masalah biaya.

"Mereka yang ada di pedesaan itu berpandangan jika bahan bakar dari hutan atau lahan pertanian itu bisa mereka dapatkan dengan gratis. Jadi, mereka tidak mau membayar terlalu mahal untuk bahan bakar tersebut. Mereka juga tidak mampu membayar biaya pemasangan pabrik biogas," ujar Kudaravalli.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most Viewed